Download gratis audio ruqyah >>klik disini. Download gratis ebook tutorial ruqyah >>klik disini. Daftar peruqyah syar'iyah se-indonesia >>klik disini. Herbal penunjang terapi ruqyah >>herbal.belajarruqyah.com. Buku panduan ruqyah >>klik disini. Channel telegram kami >>t.me/belajarruqyahcom. Instagram kami >>instagram.com/belajarruqyah.

Kaidah Memukul Dalam Ruqyah

Kaidah Memukul Dalam Ruqyah
Musdar Bustamam Tambusai
(Founder MATAIR / Majlis Talaqqi Ilmu Ruqyah, Internasional).

==========================

■ Terkadang dlm proses ruqyah, seorang peruqyah perlu melakukan tindakan fisik terhadap pasien yg diruqyah (marqiy).

■ Tindakan fisik yg boleh dilakukan itu sekilas tidak ada kaitannya dgn ruqyah tapi karena dicontohkan oleh Rasulullah maka boleh dilakukan spt meniup, menyembur, mengusap dan memukul.

■ Yg selalu menjadi persoalan dlm praktik ruqyah dan sering dipertanyakan adalah memukul. Sebab, tindakan memukul ini - kadang - tidak memiliki batasan yg jelas.

■ Pukulan atau adh-dharb dlm bahasa Arab digunakan utk pengertian memukul, menampar, bahkan memancung (adh-dharb bis saif).

■ Dalam konteks ruqyah, sering sekali tindakan memukul ini tidak memakai batasan. Apalagi dlm literatur ditemukan kisah dimana Ibnu Taimiyah memukulkan tongkatnya dan Ahmad bin Hanbal memukulkan sendalnya kpd org yg terkena gangguan jin.

■ Kedua tindakan itu menjadi contoh bagi sebagian peruqyah sehingga menjadi pembenaran utk melakukan tindakan "kekerasan" terhadap pasien.

■ Sebelum melanjutkan kaidah memukul dlm praktik ruqyah, saya ingin menyampaikan dua kisah Rasulullah saw dgn dua sahabat beliau secara terpisah.

1• Ketika Rasulullah mau mengutus seorang sahabat ke Negeri Yaman utk berdakwah, beliau bertanya "Dengan apakah engkau nanti memutuskan perkara yg engkau hadapi?". Sahabat tersebut menjawab "Dengan al-Qur'an". Nabi kembali bertanya "Jika tidak kau temukan dlm alQuran, bagaimana?". Sahabat tsb menjawab "Dengan sunnah Rasulullah". Nabi kemudian bertanya lagi "Jika dlm sunnah tidak kau temukan, bagaimana?". Sahabat itu menjawab "Aku akan berijtihad dan tidak berlebih-lebihan". Mendengar jawaban itu, Rasulullah menepuk (dharaba) dada sahabat tersebut sambil mengucapkan "Allah telah memberi taufik kpd utusan Rasulullah saw dgn apa yg telah di ridho oleh Rasulullah".

2• Sahabat Nabi yg lain adalah Usman ibn Abil Ash yg pernah mengalami gangguan di dalam sholat. Lalu mengadu kpd baginda Nabi sampai akhirnya kemudian disuruh Nabi datang ke Madinah utk diselesaikan masalahnya. Singkat cerita, sampai lah dihadapan Rasulullah. Baginda Nabi memukul (dharaba) dada Usman sambil mengatakan "Keluarlah engkau, wahai musuh Allah" sbg isyarat kpd jin yg mengganggu.

■ Dalam kedua cerita itu, Rasulullah melakukan tindakan memukul dada sahabatnya dgn kalimat dharaba. Apakah terbayang bagi kita bahwa pukulan yg dimaksud adalah pukulan keras atau justeru tepatnya disebut dgn tepukan sebagaimana kita menepuk dgn lembut anak kita saat memuji pekerjaannya?

■ Jika demikian, maka sepatutnya setiap peruqyah harus memahami kaidah memukul dlm proses ruqyah.

■ Kaidah tersebut disimpulkan dgn 3 pertanyaan :
• Kapan Memukul ?
• Dimana Memukul ?
• Bagaimana Memukul ?

■ Kapan Memukul ?
Memukul atau (tepatnya) menepuk hanyalah satu tindakan diluar esensi (hakikat) ruqyah. Karena ruqyah adalah membacakan ayat atau surah alQuran serta doa. Jika dgn bacaan saja sudah mencukupi utk mengatasi gangguan, maka pukulan tidak diperlukan. Tindakan memukul, menepuk dan sejenisnya boleh dilakukan saat hal itu dianggap perlu saja atau disaat tindakan itu diyakini dapat mempermudah proses keluarnya gangguan tsb.

■ Dimana Dipukul?
Jika pukulan memang perlu dilakukan, maka harus tepat sasaran dan tidak melanggar aturan syariat dan Etika. Artinya tidak melakukan pemukulan pd bagian yg dapat menyebabkan mudharat kpd pasien atau pd bagian sensitif yg bertentangan dgn nilai etika.

■ Bagaimana Memukul?
Nah, ini yg menjadi inti persoalan sbgmana telah disebutkan diatas melalui dua kisah Nabi bersama sahabat beliau. Artinya pukulan yg dimaksud adalah tepukan atau ketukan lembut yg tidak mencederai pd bagian yg dibolehkan secara syariat dan tidak melanggar norma kesopanan.

■ Agar terhindar dari perkara yg dapat menyebabkan keburukan pada diri peruqyah maupun pada citra (nama baik) ruqyah itu sendiri, maka kaidah ini penting utk diingat dan dilaksanakan.
Belajar Ruqyah
Belajar Ruqyah

Previous
Next Post »

Komentar anda akan di moderasi dulu oleh admin, terima kasih.
EmoticonEmoticon