Download mp3 audio ruqyah syar'iyah (GRATIS) klik disini: https://bit.ly/2DAYKOL. Herbal terapi ruqyah dapat dibeli melalui: http://herbal.belajarruqyah.com. Join channel kami: t.me/belajarruqyahcom

Apakah Peruqyah Bisa Diganggu Jin?

Bisakah Peruqyah Diganggu Jin?
Musdar Bustamam Tambusai
(Founder MATAIR / Majlis Talaqqi Ilmu Ruqyah)

=========================

Seorang ustadz bertanya, bisakah peruqyah diganggu jin ?

Pertanyaan ini menarik, kenapa ?

1. Karena yang bertanya seorang ustadz.

2. Karena peruqyah dianggap pengusir jin.

(1). Ketika seorang ustadz bertanya "Apakah peruqyah bisa diganggu jin?". Dia lupa atau mungkin belum tahu kalau Nabi saw pernah disihir. Artinya, meskipun gangguan jin dan sihir ada perbedaan, tapi intinya manusia yg paling mulia saja diserang dan diganggu. Ustadz atau kyai, gak ada jaminan bebas gangguan jin atau sihir. Sebab gangguan jin dan sihir itu adalah sejenis penyakit. Siapa saja bisa terkena.

Ketika peruqyah diserang gangguan sihir, itu merupakan resiko di jalan dakwah sebagai peruqyah sebagaimana Nabi Muhammad disihir oleh Labid seorang Yahudi. Artinya, seorang peruqyah sedang menjalani dakwah tauhid yg penuh tantangan. Karena sihir pasti pesanan orang yg tidak suka kpd peruqyah melalui tangan tukang sihir yg berkolaborasi dgn setan (jin jahat).

Sedangkan gangguan jin biasa yg dapat membuat seseorang kesurupan atau sekedar bisikan utk melakukan sesuatu yg tidak baik, bukan atas suruhan tukang sihir, maka hal seperti ini sangat sangat memungkinkan menimpa para peruqyah ketika pembentengannya lemah.

Demikian pula gangguan jin melalui 'ain hasad (kedengkian) atau 'ain i'jaab (kekaguman), sangat bisa terjadi sehingga menimbulkan penyakit yg zhahirnya terlihat medis padahal hakikatnya penyakit 'ain. Baik sihir maupun 'ain, sangat memungkinkan menyerang peruqyah yg lemah pembentengannya dari segi ilmu, iman dan amal.

(2). Peruqyah dianggap pengusir jin, sebuah pandangan yg sempit melihat ruang lingkup ruqyah yg sesungguhnya tidak terbatas. Anggapan si Ustadz sama seperti anggapan masyarakat awam yg menganggap ruqyah identik dengan terapi anti jin. Padahal, jika seorang agamawan (ulama, ustadz atau kiai) memahami ayat-ayat dan hadits yg menjelaskan al-Qur'an sebagai syifa', maka yg terbersit di benaknya bahwa al-Qur'an bukan hanya untuk mengatasi penyakit gangguan jin, sihir dan sejenisnya. Tapi lebih luas cakupannya daripada sekedar gangguan jin semata.

Jika peruqyah dianggap sebagai pengusir jin, setan, hantu dan sebutan lainnya, maka itu adalah bagian daripada jangkaun yg dapat dicapai dengan ruqyah syar'iyyah. Berarti tidak salah, cuma tidak utuh. Nah, jika peruqyah dianggap sebagai praktisi yg mampu mengobati gangguan jin, apakah dia tidak mungkin diganggu jin?

Jalankan logika berpikir dan lakukan analisa serta analogi. Ketika dokter spesialis kanker dianggap mampu melakukan penyembuhan penyakit kanker, apakah dia mungkin terserang kanker ?

Ketika dokter spesialis jantung dianggap mampu melakukan pengobatan terhadap penyakit jantung, apakah mustahil dia terserang gangguan jantung ?

Jawabannya, tentu semua dokter spesialis apapun dapat terkena gangguan penyakit yg menjadi spesifik pengobatannya.

Mengapa demikian ? Karena dia melakukan hal-hal yg bisa memicu dan memacu datangnya penyakit tersebut serta tidak mencegah kemungkinan penyakit itu menimpa dirinya.

Bagaimana dengan peruqyah ? Sama saja. Jika seorang peruqyah lemah pembentengan dan mau melakukan hal-hal yg disukai setan (jin jahat), maka serangan itu bisa datang. Bahkan serangan itu tidak hanya kpd dirinya semata, tapi juga bisa menyasar keluarganya.

Oleh karena itu lah, seorang peruqyah tidak boleh lalai. Pembentengan dengan ilmu, ibadah dan iman serta membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati, harus kuat dan kokoh. Keluarga dan rumahnya harus selalu dibentengi dengan ayat-ayat al-Qur'an, ibadah-ibadah sunat dan doa-doa harian. Dan yang paling penting dari semua itu adalah up great dan up date keilmuan yg meliputi akidah, ibadah dan tazkiyatun nafs.

Bagaimana bentuk gangguan jin kepada peruqyah ?

Bentuknya kebanyakan adalah talbis, penyakit ain dan bisa jadi serangan sihir. Sedangkan kesurupan atau kerasukan, saya belum pernah mendengar atau menyaksikan seorang peruqyah kesurupan. Fakta dan realita adalah dalil yg paling kuat untuk mengatakan bahwa seorang peruqyah sangat jauh dari kesurupan, bukan tidak mungkin. Saya sarankan, jika kita meruqyah seseorang, niatkan pula ruqyah itu sbg pembentengan kita.

Terakhir, mari kuatkan pembentengan kita sbg peruqyah. Tantangan peruqyah juga datang dari para ustadz-ustadz yg tidak memahami ruqyah. Kadang ada iri, dengki, fitnah dan sebagainya.

Sejak 2005 malang melintang di dunia ruqyah, saya sudah banyak menyaksikan sikap-sikap tidak bersahabat kpd peruqyah oleh para ustadz yg tidak memahami ruqyah.

Padahal -kalau mereka sadar- mereka pun seharusnya belajar ilmu ruqyah. Sebab dakwah dengan ruqyah ini, sangat realistis dan aplikatif. Guru saya -Dr. Lahmuddin Nasution- dalam salah satu kuliahnya di Pascasarjana IAIN-SU tahun 2004, mengatakan kpd kami, katanya "Seorang ustadz itu harus pintar ilmu dukun-dukun. Karena dalam realita, mayarakat memerlukan hal semacam itu". Demikian lebih kurang. Dia memang menyebutkan "ilmu dukun-dukun" tapi maksud dia adalah ilmu atau hal-hal yg berada diluar jangkauan medis atau pembentengan ghoib dari serangan-serangan ghoib. Itu lah ilmu ruqyah.

Mudah-mudahan kita semua mau mempelajari ilmu ruqyah lebih dalam lagi. Teori ruqyah itu simpel, tapi ilmu ruqyah itu luas.

Robbuna Yusahhil umuurona. Aamiin.
Belajar Ruqyah
Belajar Ruqyah

Previous
Next Post »

Komentar anda akan di moderasi dulu oleh admin, terima kasih.
EmoticonEmoticon